Sabtu, 26 November 2011

SURAT PAULUS KEPADA JEMAAT DI ROMA

Ditulis di *Korintus, sekitar tahun 57 M, kepada jemaat yang belum pernah dikenalnya secara langsung tetapi yang ia harapkan segera dapat engunjunginya. Surat Roma dimaksudkan untuk mempersiapkan kunjungan Paulus itu. Paulus menulis untuk memberi uraian hati-hati mengenai pengertiannya tentang Gereja Kristen dalam hubungannya dengan orang Yahudi dengan siapa Tuhan Allah yang membuat *perjanjian: orang Yahudi adalah 'umat pilihan' dan banyak di antara mereka yang sekarang menjadi anggota Gereja di Roma yang mungkin diketuai oleh seorang tokoh, tidak kurang daripada Petrus. Rasul terkemuka itu mungkin datang ke Roma tak lama sebelum Paulus menulis suratnya ini (ia mati di bawah pemerintahan Kaisar Nero pada 64 M). Dengan demikian, tugas Paulus menjadi sulit, sekalipun bagi Paulus sendiri (Rm. 15:24) tujuan utamanya adalah melewati Roma terus maju ke barat dengan bantuan orang di Roma. Apabila surat Paulus kepada jemaat *Filipi ditulis dari Roma, maka ada bukti (Flp. 4:22) bahwa agama Kristen telah masuk di lingkungan istana di Roma. Gereja telah membuat perjalanan dari Yerusalem ke ibu kota sang kaisar dan sebaiknya rasul bagi orang *bukan Yahudi, Paulus buru-buru ke sana. Pokok utama Surat Roma adalah *keselamatan yang diberikan Allah kepada seluruh umat manusia melalui jalan iman dari injil. Paulus menguraikan hal ini ke dalam tiga arah: pertama sebagai semacam negarawan ia menelusuri kedudukan orang Yahudi sekarang dan kemungkinan bagi Yudaisme di masa depan; kemudian sebagai seorang teolog ia memikirkan kebangkrutan dari Yudaisme tersebut dan apa jalan penyelamatannya; dan akhirnya sebagai orang yang aktif bertindak, Paulus menyatakan maksud-maksudnya dan rencana-rencananya. Paulus sadar bahwa ada dua kelompok dalam jemaat Roma (Rm. 14-16): Yahudi yang menjadi Kristen dan Kristen bukan Yahudi (as al kafir). Paulus man supaya kelompok Yahudi menyadari bahwa kelompok Kristen bukan Yahudi yang tidak berpegang pada hukum *Taurat Yahudi mewakili jantung kehidupan Gereja. Orang Kristen Yahudi harus beribadah bersama yang bukan Yahudi dan melepaskan ikatan emosional maupun ikatan legal mere dengan *sinagoge sebelum Paulus tiba. Tak dapat dihindarkan Paulus menghadapi suatu persoalan: apabila Yesus adalah *Me. sias, apa yang harus dikatan tentang penyataan dalam PL. Jika Tuhan Allah sekarang memanggil orang kafir, tidakkah Tuhan itu tidak setia pada janjinya kepada orang Yahudi? Soal ini diuraikan Paulus dalam Rm. 9-11. Sesungguhnya Paulus menyatakan bahwa PL memperlihatakan bagaimana Allah memilih umat-Nya dengan bebas tanpa pertimbangan keturunan lahiriah atau kebangsaan. Paulus juga harus menguraikan secara lengkap pandangannya yang pernah ia bayangkan kepada orang Galatia, khusus tentang hukum Taurat (*Tora). Taurat itu serentak kudus, benar dan baik (Rm. 7:12), tetapi orang Kristen dibebaskan daripadanya (7:6) dan mereka dibebaskan karena keselamatan itu adalah dalam Kristus dan tidak dicapai melalui jalan hukum-hukum makanan, kehidupan yang terikat pada ketaatan pada *Sabat atau *sunat. Semua dibenarkan hanya oleh iman dan tidak seorangpun dapat menyombongkan hasil yang dicapainya. Ketaatan pada Taurat bukanlah ukuran yang menentukan bahwa seseorang itu benar dalam hubungannya dengan Allah, oleh karena itu orang Kristen itu mati bagi hukum Taurat (Rm. 7:4). Ukuran untuk kebenaran adalah iman kepada Kristus yang telah menggantikan kedudukan hukum Taurat di pusat kehidupan heriman (Rm. 10:4). Hokum Taurat itu tidaklah buruk pada dirinya sendiri (hukum ini 'kudus'), tetapi hati manusia memutarbalikkannya menjadi buruk, khususnya dalam hukum jangan mengiri. Paulus sadar bahwa kecamannya terhadap hukum Taurat itu dapat mengundang tuduhan bahwa ia tidak mengacuhkan moral. Maka ia menuliskan empat pasal (Rm. 12-15) untuk menghubungkan 'injil'nya (Gal. 1:9) dengan kewajiban kehidupan sehari-hari di Gereja dan masyarakat dengan motif utamanya, yaitu *kasih, dan tutuntan kasih itu malah lebih tepat daripada tuntutan Taurat. Surat Roma sepertinya berakhir dengan pasal 15 dan menjadikan Rm. 16 suatu lampiran. Hal ini menyebabkan beberapa penafsir mengusulkan bahwa surat ini adalah suatu surat edaran dengan membubuh-. kan salam-salam khusus kepada masingmasing Gereja pada akhirnya, tetapi untuk usul ini tidak cukup bukti. Suatu doksologi serupa juga ada para akhir pasal 11. Untuk waktu yang cukup lama, para penafsir suka menafsirkan Surat Roma dalam cara Martin Luther menafsirkannya -- yaitu bahwa Paulus menentang pandangan orang Yahudi mengenai perbuatan baik yang dituntut oleh hukum Taurat menghasilkan upah di mata Tuhan, sehingga manusia itu dibenarkan oleh perbuatannya. Luther menekankan, bahwa Paulus sebaliknya mengatakan bahwa diterimanya manusia oleh Allah dan dibebaskannya manusia dalam penghakiman akhir, hanya tergantung pada anugerah Allah semata-mata dan pada iman di pihak manusia. Luther memikirkan kenyataan Gereja Katolik dan disiplin keras serta asketisme yang penuh kekhawatiran dalam hidupnya sebagai biarawan. Luther merasa dibebaskan dengan membaca Surat Roma dan Galatia. Tetapi, sebenarnya keadaan Luther bukanlah keadaan abad pertama ini. Serangan Paulus atas hukum Taurat bukanlah karena hukum itu mendirikan kebenaran sendiri melalui penumpukan pahala, melainkan karena kedudukan hukum Taurat itu sudah digantikan oleh Kristus dalam rangka keselamatan yang dikerjakan Allah. Karena itulah orang Yahudi dan orang bukan Yahudi mempunyai kedudukan yang sama. Dalam arti itulah Paulus dapat menyatakan bahwa 'ia mengukuhkan Taurat' (Rm. 3: 31). Taurat itu menempatkan orang Yahudi dalam kedudukan yang sama: keduanya bersalah di hadapan Allah dan orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dalam Gereja bersatu dalam Kristus (Rm. 3:21-30). Sama sekali tidak mungkin dipertanyakan agar orang bukan Yahudi yang bertobat itu harus lebih dulu tunduk pada Taurat dan disunat sebelum *dibaptiskan. Orang Kristen Yahudi harus melepaskan semua ikatannya dengan sinagoga dan bersekutu dengan orang bukan Yahudi dalam kehidupan beribadah dan bermasyarakat menurut dasar pikiran Paulus (Rm. 15:7). Paulus mengakhiri Surat Roma dengan bayangan suatu kegagalan; orang Yahudi dapat mengacaukan rencananya; persembahannya (untuk jemaat Yerusalem) mungkin tidak diterima (Rm. 15:31). Dan menurut Kitab Kisah Para Rasul, Paulus sampai di Roma tetapi sebagai tawanan (Kis. 28:16).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar